Budaya Minum Kopi di Asia Tenggara

gambar tersebut menyebutkan budaya minum kopi di Asia Tenggara gambar tersebut menyebutkan budaya minum kopi di Asia Tenggara

Budaya Minum Kopi di Asia Tenggara

Meskipun Asia Tenggara dipandang sebagai wilayah dengan tradisi minum teh, kawasan ini juga tercatat sebagai penghasil kopi.

Sementara tren dunia kopi gelombang ketiga mengalami peningkatan di beberapa negara Asia Tenggara dan mendongkrak pertumbuhan bisnis kedai kopi kekinian, masih tidak ada yang bisa mengalahkan seduhan kopi lokal yang telah dinikmati masyarakat regional ASEAN selama beberapa generasi.

Vietnam

Sejarah kopi di Vietnam bermula pada abad ke-19, ketika pemerintahan Perancis membawa tanaman kopi untuk melebarkan bisnis ke wilayah koloninya di Indochina Perancis (terdiri atas Vietnam, Kamboja dan Laos). Vietnam kini menjadi pengekspor kopi terbesar kedua di dunia setelah Brasil, dan terbesar di Asia Tenggara. Sejak saat itu, kopi menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Vietnam.

Kopi sangat erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Vietnam, sehingga Anda akan menemukannya di mana-mana, mulai dari restoran hingga kafe pinggir jalan, tempat penduduk setempat duduk di bangku pendek dan bercakap-cakap dengan teman-teman mereka sambil menyeruput secangkir kopi. Resepnya tentu sudah disesuaikan dengan lidah lokal, seperti cafe au lait versi setempat yang menggunakan susu kental manis karena sulit mendapatkan susu sapi segar.

Berada di kawasan tropis dengan sengatan sinar matahari sepanjang tahun, minuman dingin tentu saja adalah pilihan yang masuk akal untuk menyiasati cuaca yang panas. Meskipun Anda bisa juga memesan secangkir kopi panas dengan susu kental manis (ca phe sua nong), yang lebih populer adalah es kopi susunya (ca phe sua da). Apa pun pilihannya, Anda akan melihat filter kopi stainless khas Vietnam yang disebut phin di atas cangkir atau gelas kopi Anda. Alat ini memungkinkan kopi panas menetes perlahan-lahan ke dalam gelas atau cangkir di bawahnya.

Varian kopi Vietnam lainnya termasuk kopi yoghurt (sua chua ca phe), yang kedengarannya tidak biasa tetapi merupakan suguhan yang unik dengan rasa kopi yang mendominasi dan aftertaste asam manis dari perpaduan yoghurt dan susu kental manis, dan kopi telur (ca phe trung), racikan kopi creamy yang dibuat dengan cara mengocok kuning telur bersama susu kental manis hingga berbusa.

Malaysia

Kopi diperkenalkan ke Malaysia pada masa penjajahan Inggris, ketika etnis Tionghoa yang mencoba mencari penghidupan di Malaysia (dan Singapura) mendirikan kedai kopi, menciptakan budaya kopitiam (secara harfiah, "kedai kopi" dalam Bahasa Hokkien). Kebanyakan kopitiam masih menyajikan kopi dengan cara tradisional, dengan menuangkan air mendidih ke atas bubuk kopi dengan tingkat giling yang sangat halus (extra fine) di dalam saringan kain khusus yang mirip kaus kaki panjang serta menggunakan metode menuang kopi dari cangkir berisi ke cangkir kosong seperti gerakan menarik-narik hingga tercampur rata.

Layaknya orang Inggris, kopi putih (white coffee) adalah standar di Malaysia, dan memesan secangkir kopi di sana berarti Anda akan mendapatkan kopi hitam yang diberi susu kental manis.

Kopitiam masih menggunakan kopi Liberica lokal yang banyak ditanam di sekitar daerah Selangor, Sabah, dan Johor. Rasa biji kopi Liberica lebih pahit dan asam dan melalui proses pemanggangan dua kali, yang kedua kali dengan margarin dan gula leleh--untuk membuat rasa biji kopi yang pahit, tebal dan kuat menjadi lebih nikmat. Penggunaan susu kental manis ketika diseduh juga bertujuan untuk melunakkan rasa biji kopi ini.

Singapura

Singapura bukan negara penghasil kopi terbesar, tetapi menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara sebagai negara dengan peminum kopi terbanyak.

Budaya kopi Singapura hampir identik dengan Malaysia, karena kedua negara tersebut pernah berada di bawah pemerintahan kolonial Inggris dan mendapat pengaruh yang hampir sama.

Di kopitiam Singapura, Anda bisa memesan kopi dengan susu kental manis, kopi O dengan gula tapi tanpa susu, atau kopi C dengan susu evaporasi dan gula. Untuk mencoba pengalaman kuliner lokal, pesanlah secangkir kopi gu you, yaitu kopi mentega khas kopitiam. Kopi yang creamy dan gurih ini diracik dengan susu kental manis, gula, dan mentega--kopi anti-peluru (bulletproof coffee) ala Singapura.

Thailand

Berbeda dengan negara-negara tetangganya, sejarah kopi di Thailand tidak dipengaruhi oleh kolonialisme. Sebagai negara yang tidak pernah dijajah, Thailand merupakan pemain baru dalam dunia kopi.

Meskipun minuman ini baru populer pada tahun 1970-an (perkebunan kopi di utara Thailand baru dimulai pada tahun 1980-an), Thailand adalah negara kedua setelah Singapura di Asia Tenggara untuk konsumsi kopi terbanyak.

Sebagai negara subtropis dengan curah hujan rendah sepanjang tahun, tidak heran jika es kopi menjadi minuman berkafein pilihan di Thailand. Dan sama seperti negara tetangganya, kedai kopi di Thailand juga didominasi oleh imigran etnis Tionghoa. Oleh karena itu, es kopi tradisional Thailand dikenal sebagai oliang, atau “hitam dan dingin” dalam Bahasa Tiochiu.

Sama seperti Thai Tea khas Thailand yang terkenal, oliang juga merupakan minuman campuran, yang terbuat dari campuran kopi bubuk dan gula merah dengan berbagai biji-bijian seperti kapulaga, jagung, kedelai, beras dan biji wijen. Oliang lahir pada masa kopi masih dianggap sebagai barang mewah sehingga biji-bijian ditambahkan untuk membuat rasanya lebih menonjol, tetapi sekarang campuran itulah yang menjadi keunikan minuman ini.

Laos

Sebagai negara yang tidak memiliki perairan (The Landlocked Country), perekonomian Laos didominasi oleh pertanian sehingga dari segi produksi kopi, Laos lebih baik dari negara tetangganya yang lebih populer: Peringkat ke-22 di dunia dan ketiga di Asia Tenggara setelah Vietnam dan Indonesia.

Meskipun begitu, komoditas biji kopi berkualitas terbaik sebagian besar diekspor, dan masyarakat Laos kebanyakan mengonsumsi kopi instan tiga-dalam-satu.

Jika Anda tidak menyukai kopi instan, Anda bisa mencoba kopi khas Laos yang diseduh menggunakan saringan kain dan dihidangkan dengan susu kental manis.

Indonesia

Sejarah kopi di Indonesia dimulai pada tahun 1696, pada masa kolonialisme Belanda. Belanda membawa bibit kopi pertama dari Malabar, India, ke Pulau Jawa. Bibitnya sendiri berasal dari Yaman, menjadikan Indonesia sebagai wilayah pertama di luar Semenanjung Arab dan Ethiopia. Saat ini, Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat di dunia, nomor dua setelah Vietnam di Asia Tenggara.

Ketika warga metropolitan memesan kopi mereka di kafe-kafe mewah, warung kopi (kedai kopi) tetap menjadi tempat untuk bercakap-cakap dan bertukar gosip warga setempat di daerah pinggiran dan pedesaan.

Selain menggunakan saringan kain, cara menyeduh kopi yang populer lainnya adalah tubruk, yaitu air panas mendidih langsung dituangkan ke dalam cangkir berisi bubuk kopi yang dibiarkan mengendap sebelum diminum.

Indonesia juga identik dengan kopi luwaknya, atau buah kopi yang telah dicerna sebagian dan dikeluarkan oleh luwak Asia. Sedangkan di Sumatera Barat, daun kopi robusta dikeringkan, diasap atau disangrai, lalu direbus untuk membuat teh herbal yang dikenal dengan nama kopi kahwa, yang bentuk, bau, dan rasanya seperti kopi biasa.

Jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia, peminum kopi terbanyak adalah masyarakat yang tinggal di Indonesia bagian timur seperti Papua dan Maluku. Salah satu seduhan yang populer adalah kopi rarobang, yaitu kopi bubuk yang direbus bersama jahe, cengkeh, kayu manis dan madu dan disajikan dengan taburan kacang pili di atasnya.